Menyatunya Sufistik dan Enterpreneurship

Menyatunya Sufistik dan Enterpreneurship

Menyatunya Sufistik dan Enterpreneurship

Perlu ditingkatkan penelitian dan penyatuan antara tasawuf dan bisnis, Ini yang juga ibarat mutiara hilang di wacana dakwah kita
Oleh :  Zainurrofieq


AKA BONANZA | Masih terngiang di benak saya, dalam rentetan seri diskusi Zoom Wasathiyyah Center di bulan kemarin.
Saat itu materi diskusi tentang Lembaga Pesantren dalam tantangan pasca covid-19.

Diskusi itu menyimpulkan satu kegundahan dan harapan, berangkat dari tanggungjawab dakwah dan realitas keummatan, bahwa pasca covid-19 ini harus ada semacam pergerakan “REVOLUSI ENTREPRENEURSHIP’ dikalangan pesantren.

Dalam bincang santai dengan guru saya Doktor Ajid Tohir, beliau adalah pakar, pemerhati dan pelaku sufistik dan juga dosen di UIN SGD Bandung.

Menurutnya perlu ditingkatkan penelitian dan penyatuan antara tasawuf dan bisnis . Ini yang juga ibarat mutiara hilang di wacana dakwah kita.

Padahal banyak para pendahulu dan guru sufi itu adalah juga seorang niagawan alias bisnisman.

Salah satu yang hilang juga dalam pendidikan pesantren di kita adalah sosok Rasululllah SAW yang diyakini sebagai teladan ummat  kurang terexsplor dalam sisi ENTREPRENEURSHIPnya.

Padahal kita semua tahu bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pebisnis ulung, juga pionir terpraktekkannya nilai-nilai dakwah islamiyyah dalam dunia bisnis atau ENTREPRENEURSHIP.

Pak Ajid mengarahkan diantara wacana dan fenomena yang menarik dikaji dalam masalah pergumulan sufisme dan enterprenership adalah fenomena Pesantren Idrisiyyah di Tasikmalaya.

Koperasi Pesantren ini adalah juara pertama koperasi terbaik tingkat nasional dan Pesantren ini memiliki banyak mini mart, puluhan hektar tambak udang, dan lain sebagainya yang bisa menjadi harapan baru bagi optimisme ummat Islam khususnya masyarakat pesantren.

Dari pesantren yang takhossus memperdalam nilai-nilai kesufian, ternyata mampu berdaya dalam sisi bisnis modern, dan tidak kalah bersaing dengan yang lainnya.

Pesantren ini telah mampu membangun sebuah enterprenership yang kita ketahui beda dengan sekedar usaha dan dagang tentunya.

Enterprener adalah orang yang mampu melakukan kegiatan wirausaha yang memilliki bakat dalam mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, membuat standar operasionalnya, memasarkan produk dan juga bisa mengatur modal untuk opearasional.

Menjadi enterprener, orang harus punya kemampuan berfikir kreatif dan imajinatif ketika melihat sebuah peluang usaha agar memberikan manfaat lebih.

Dalam enterprener pasti ada aktifitas jual beli (dagang), sementara kalau berdagang cuman ada barang, ditambah margin  lalu dijual, tanpa konsep dan tanpa target.

Seorang enterprener akan mampu mengubah barang biasa menjadi barang yang luar biasa, dan diaturkan dengan manajemen bisnis yang rapih.

Bedanya seorang enterprener dengan pedagang adalah pertama Selalu memiliki mind set positif, kedua Memiliki rancangan Bisnis dan ketiganya, Pantang Menyerah.

Ketika kebanyakan orang menganggap bahwa masalah merupakan kesulitan hidup, orang berjiwa enterprenership akan melihat masalah itu sebagai peluang usaha. Mereka berupaya maksimal menciptakan solusi yang bisa membantu menyelesaikan masalah dan menjadikannya bisnis yang menguntungkan.

Maka penyatuan enterprenership dengan dunia sufistik sebenarnya merupakan “injaz”/ prestasi yang tidak mudah, dan bersyukur dalam silaturahim wasatiyyah center, setelah bertemu Dr Ajid ahli sufistik itu, saya di pertemuan dengan kang Aka Bonanza, punggawa  ekonomi Pesantren Idrisiyyah.

Dari tangan kang AKA ternyata sepuluh tahun terakhir ini Pesantren Idrisiyyah menorehkan sejarah kemajuan, tentunya dalah arahan dan irsyadat Pimpinan Idrisiyyah KH Fathurohman.

Idrisiyyah berhasil membuat satu diskursus “Enterprener Sufi”, yaitu aktifitas bisnis yang lebih menekankan pada spirit personality, membangun power dari dalam jiwa, memunculkan niat yang tulus dan visi misi yang besar.  Spirit sufistik yang muncul dari dalam  berawal dari niat yang lurus, pemahaman bahwa dunia adalah jalan untuk menuju akhirat, sampailah pada keyakinan bahwa  dengan nilai keimanan, apapun bentuk bisnis akan dipandang sebagai bentuk kegiatan IBADAH.

Dalam obrolan santai pula kang AKA mengisahkan ketika sepuluh tahun lalu memegang tim ekonomi pesantren ini hanya bermodalkan uang 20juta saja, dan tepat sepuluh tahun ini kini dah bernilai ratusan milyar.

Kini kang AKA dan Idrisiyyahnya menjadi pupuhu dari SEP (Serikat Ekonomi Pesantren) organisasi yang digagasnya bersama Pesantren Daruttauhid MQ Bandung, Pesantren Agro Bisnis Al Ittifaq Ciwidey.

SEP kini memiliki anggota 1000 lebih produk UMKM dan  pesantren binaan.

Silaturahim bersama Dr Ajid dan Kang AKA Idrisiyyah, tanpa terasa terkuatkanlah program KADIN PESANTREN (Kamar Dagang dan Inkubasi Bisnis Pesantren) yang dibidani oleh diskusi Wasatiyyah Center (Para Alumni Al Azhar Cairo). Kini SEP dibawah kang AKA Idrisiyyah bersama KADIN PESANTREN mencoba melirik peluang pasar timur tengah (Arab) untuk pemasaran produk-produk pesantren ini.  Semoga……